BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Manusia pada umumnya ingin selalu mendapatkan ketenangan, kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebab manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Asal mulanya kita datng ke dunia dalam keadaan suci terlepas dari perbuatan dosa sebagaimana yang telah disampaika hadits: “Setiap manusia yang lahir dalam keadaan suci”.
Karena kita datang kedunia dalam keadaan suci, maka kita juga di tuntut pada waktu kembali kepada Alloh swt harus dalam keaddaan suci pula. Agar kelak di akhirat nanti kita tidak terbebani dosa dan mendapatkan kebahagiyaan yang haqiqi.maka dari itu,sangatlah penting kita senantiasa bertobat kepada Alloh swt melalui perintahNya yang sudah di tentukan olehNya agar dosa-dosa kita dapat terhapuskan serta mendapatkan keridoannya.
.B. Rumusan masalah
Penjelasan hadits tentang hikmah puasa……!
Makna mofrod Hadits……!
Fungsi dan keutamaan puasa….!
Tejemahan hadits…!
C. Tujuan
Untuk mengetahui dasar-dasar dari beberapa hadits mengenai keutamaan puasa baik secara lafdziyah maupun secara maknawiyah yang di lengkapi dengan penjelasannya , agar kita lebih meyakini atas printah yang telah di wajibkan Alloh kepada kita kususnya yang berkenaan dengan puasa
BAB II
PEMBAHASAN
A. Puasa sebagai penghapus dosa
Sebagai manusia yang telah tercipta dengan bentuk yang sangat ragam dan sempurna dibangdingkan dengan mahluk lainnya masih tidak lepas dengan ikatan perintah Alloh swt. Dan membutuhkan atas pengampunanNya atas segela dosa yang telah kita lakukan
Salah satu perintah Alloh yang bisa kita dijadikan pegangan dalam kehidupan kita bahkan merupakan kewajiban mutlak bagi kita adalah perintah puasa. Perintah ini merupakan salah satu bentuk dari rukun Islam yang wajib kita laksanakan. Hal ini di landasi dengan beberapa sumber khususnya Dalil-dalil al qur’an, yaitu:
1. sumber Al qur’an
Artinya:Hai orang-orang yang beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana yang teah di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar supaya kamu bertaqwa .
Pemahaman inilah yang harus kita di jadikan landasan utama dalam melaksanakan kewajiban puasa. Karana melaksanakan kewajiban puasa inilah akan memudahkan atas tehapusnya dan hilangnya dosa-dosa kita. Karna kodrad manusia itu sendiri tidak pernan lepas dari salah dan lupa, maka dari itu kita harus senantiasa mengharap atas pengampunan dari Alloh swt melalui segala perintahnya.
2. Sumber Hadits
Arinya:Dari Abu Huroiroh R.a, Rosululloh Saw Bersada: Barang siapa yang berpuasa pada bulan Rhomadhon karena iman dan mengharap keridho’an dari Alloh swt, maka Ia di ampuni disa-dosanya.( Muttafaqun ‘Alaih)
3. makna mofrod hadits
: Barang siapa
: berpuasa
: Di Bulan Rhomadhon
: keimanan
: karena mengharap
: di ampuni baginya
: yang terdahulu
: dari dosanya
4. penjelasan hadits
Hadits tersebut menjelaskan tentang manfaat dan hikmah puasa yang bisa menghapuska dosa-dosa kita yang telah berlalu yang telah kita melakukannya baik di swengaja maupun tidak di sengaja.
Allah SWT dengan kehendak dan kebijakan-Nya, menjadikan anak cucu Adam melakukan kesalahan dan perbuatan dosa, dan dengan kehendak dan kebijakan-Nya pula Dia memberikan berbagai cara sebagai penebus atau penghapus dosa tersebut hingga dosa tersebut sirna dan hilang sama sekali dari diri seorang anak manusia. Dan diantara amal shalih yang dapat menghapus dosa adalah puasa; karena dengan berpuasa seorang hamba akan dapat meninggalkan berbagai macam serbuan syahwat dalam arti yang seluas-luasnya, puasa akan dapat mempersempit gerak langkah syaithan yang mengalir begitu cepatnya bagaikan darah yang mengalir di dalam tubuh manusia.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat perisai dari neraka Allah Tabaraka Swt telah mengkhususkan satu pintu syurga untuk orang yang puasa puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwat menahan dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek hingga jadilah jiwa yg tenang. Inilah pahala yg besar keutamaan yang agung. dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwat dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa menjadikan sebagai wijaa (pemutus syahwat jiwa) bagi syahwat ini karena puasa menahan kuat anggota badan hingga bisa terkontrol menenangkan seluruh anggota badan serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yg menakjubkan dalam menjaga anggota badan yg dhahir dan kekuatan batin.
Rosululloh Shalallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “sesungguhnya dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan rayyan orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut tak ada orang selain mereka yang memasukinya. jika telah masuk orang terahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut barang siapa yang masuk akan minum dan barang siapa yg minum tak akan merasa haus nuutk selamanya.” (HR. Bukhori (4/95). Muslim (1152) tambahan akhir dalam riwayat Ibnu Khuzhaimah dalam kitab Shahih (1903))
Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (Qathi) dalam kitabullah yang mulia memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk Taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah Azza wa Jalla dan menjelaskan keutamaan-keutamaan seperti firman Allah Taala yang artinya :
“Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat kaum mukminin dan mukminat kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta wanita yang sabar (ketaatannya) dan kaum pria serta wanita yang khusyu dan kaum pria serta wanita yang bersedeekah dan kaum pria serta wanita yang berpuasa dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatan (syahwat birahinya) dan kaum pria serta kaum wanita yang banyak mengingat Allah. Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yg besar.” (Surat Al-Ahzab : 35)
B. puasa-puasa sunnah penghapus dosa
Diantara puasa-puasa sunnah yang bisa menghapus dosa-dosa kita adalah. Puasa ‘Asyuro dan puasa ‘Arofah. Karana ia di lakukan pada suatu hari yang sangat agung, dengan keagungan hari tersebut, maka puasa di hari ‘Asyuro dan hari ‘Arofah tersebut mempunyaikeagungan pula.
1. Sumber hadits
Artinya:Dari Abu Qotadah R.a Rosululloh Saw bersabda: Puasa pada hari ‘Asyuro itu dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu( H.R Imam Muslim)
Artinya: puasa pada hari ‘Arofah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun yang sedang berlalu dan yang akan datang (H.R Imam Bukhori dan turmidzi)
2. Makna mofrodad hadits
: hari ‘Asyuro ( muharrom)
: menghapus atau menghilangkan
: satu tahun yang lalu.
: hari ‘Arofah
: Dua tahun
: yang lalu
: yang akan datang
3. penjelasan hadits
Dari beberapa hadist di atas, jelas sekali, puasa di hari Arafah akan dapat menghapuskan dosa yang pernah kita lakukan setahun lalu dan menghapuskan dosa yang akan kita lakukan setahun sesudahnya. Oleh karenanya, selayaknya sebagai seorang Muslim, minimal kita sudah memiliki niat untuk melakukan puasa hari Arafah tersebut, walaupun kita tidak mampu untuk berpuasa delapan hari sebelumnya, mulai tanggal 1 Dzul Hijjah. Inilah diantara momentum yang sangat tepat untuk membersihkan lembaran dosa yang pernah kita lakukan. Mari raih momentum penghapusan dosa dengan puasa di hari Arafah ini yang hanya datang hanya sekali dalam satu tahun.
Tidak semua dosa akan dihapuskan karena menurut sebagian para ulama, yang dimaksud dengan dosa dalam hadits di atas bukanlah dosa besar, melainkan dosa-dosa kecil.Dengan berlandaskan hadits rasulullahSAW :
الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّراتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu, shalat jum’at sampai ke shalat jum’at berikutnya, puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya adalah sebagai penghapus (dosa) apabila perbuatan dosa besar di tinggalkan
Semoga dengan penjelasan singkat di atas, kita dapat memahami pesan-pesan Rasulullah SAW dan dapat melaksanakannya dengan baik. Dengan melaksanakan berbagai ibadah karena Allah SWt, diantaranya dengan berpuasa di hari Arafah, kita berharap Allah SWT menghapus dosa-dosa yang pernah kita lakukan satu tahun lalu dan satu tahun yang akan datang. Amien ya Rabbal ‘alamin.Wallahua’lambish-shawab
BAB III
PENUTUP
A. kesmpulan
Jelaslah bahwa ibadah puasa merupakan salah satu rukun islam yang harus kita laksanakan dengan ketentuan Syarat dan rukunnya yang sudah di tetapkan. Karena dalam melaksanakan ibadah puasa yang di landasi keimanan dan mengharap keridoan dari Alloh swt pasti akan memberikan atsar atau pengaruh akan terhapusnya dosa-dosa kita yang telah kita lakukan
B. Saran
Hadirnya makalah ini sangatlah jauh dari kesempunan. Maka dari itu, kami sngat mengharap keritik dan saran dari semua pembaca makalah ini apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan ini, sehingga untuk selanjutny kita bisa memperbaikinya.
DAFTAR PUSTAKA
Daudy Ahmad, Kuliah Akidah Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1997.
Jamhari Muhammad, Zainuddin A, Al-Islam I Akidah dan Ibadah, Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Jawad Muhammad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta: Lentera, 2008.
Ritonga Rahman, Akidah Merakit Hubungan Manusia Dengan Khaliknya Melalui Pendidikan Akidah Anak Usia Dini, Surabaya: Amelia, 2005.
Shaltut Mahmud, Akidah dan Syariah Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1984.
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Manusia pada umumnya ingin selalu mendapatkan ketenangan, kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Sebab manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Asal mulanya kita datng ke dunia dalam keadaan suci terlepas dari perbuatan dosa sebagaimana yang telah disampaika hadits: “Setiap manusia yang lahir dalam keadaan suci”.
Karena kita datang kedunia dalam keadaan suci, maka kita juga di tuntut pada waktu kembali kepada Alloh swt harus dalam keaddaan suci pula. Agar kelak di akhirat nanti kita tidak terbebani dosa dan mendapatkan kebahagiyaan yang haqiqi.maka dari itu,sangatlah penting kita senantiasa bertobat kepada Alloh swt melalui perintahNya yang sudah di tentukan olehNya agar dosa-dosa kita dapat terhapuskan serta mendapatkan keridoannya.
.B. Rumusan masalah
Penjelasan hadits tentang hikmah puasa……!
Makna mofrod Hadits……!
Fungsi dan keutamaan puasa….!
Tejemahan hadits…!
C. Tujuan
Untuk mengetahui dasar-dasar dari beberapa hadits mengenai keutamaan puasa baik secara lafdziyah maupun secara maknawiyah yang di lengkapi dengan penjelasannya , agar kita lebih meyakini atas printah yang telah di wajibkan Alloh kepada kita kususnya yang berkenaan dengan puasa
BAB II
PEMBAHASAN
A. Puasa sebagai penghapus dosa
Sebagai manusia yang telah tercipta dengan bentuk yang sangat ragam dan sempurna dibangdingkan dengan mahluk lainnya masih tidak lepas dengan ikatan perintah Alloh swt. Dan membutuhkan atas pengampunanNya atas segela dosa yang telah kita lakukan
Salah satu perintah Alloh yang bisa kita dijadikan pegangan dalam kehidupan kita bahkan merupakan kewajiban mutlak bagi kita adalah perintah puasa. Perintah ini merupakan salah satu bentuk dari rukun Islam yang wajib kita laksanakan. Hal ini di landasi dengan beberapa sumber khususnya Dalil-dalil al qur’an, yaitu:
1. sumber Al qur’an
Artinya:Hai orang-orang yang beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana yang teah di wajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar supaya kamu bertaqwa .
Pemahaman inilah yang harus kita di jadikan landasan utama dalam melaksanakan kewajiban puasa. Karana melaksanakan kewajiban puasa inilah akan memudahkan atas tehapusnya dan hilangnya dosa-dosa kita. Karna kodrad manusia itu sendiri tidak pernan lepas dari salah dan lupa, maka dari itu kita harus senantiasa mengharap atas pengampunan dari Alloh swt melalui segala perintahnya.
2. Sumber Hadits
Arinya:Dari Abu Huroiroh R.a, Rosululloh Saw Bersada: Barang siapa yang berpuasa pada bulan Rhomadhon karena iman dan mengharap keridho’an dari Alloh swt, maka Ia di ampuni disa-dosanya.( Muttafaqun ‘Alaih)
3. makna mofrod hadits
: Barang siapa
: berpuasa
: Di Bulan Rhomadhon
: keimanan
: karena mengharap
: di ampuni baginya
: yang terdahulu
: dari dosanya
4. penjelasan hadits
Hadits tersebut menjelaskan tentang manfaat dan hikmah puasa yang bisa menghapuska dosa-dosa kita yang telah berlalu yang telah kita melakukannya baik di swengaja maupun tidak di sengaja.
Allah SWT dengan kehendak dan kebijakan-Nya, menjadikan anak cucu Adam melakukan kesalahan dan perbuatan dosa, dan dengan kehendak dan kebijakan-Nya pula Dia memberikan berbagai cara sebagai penebus atau penghapus dosa tersebut hingga dosa tersebut sirna dan hilang sama sekali dari diri seorang anak manusia. Dan diantara amal shalih yang dapat menghapus dosa adalah puasa; karena dengan berpuasa seorang hamba akan dapat meninggalkan berbagai macam serbuan syahwat dalam arti yang seluas-luasnya, puasa akan dapat mempersempit gerak langkah syaithan yang mengalir begitu cepatnya bagaikan darah yang mengalir di dalam tubuh manusia.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat perisai dari neraka Allah Tabaraka Swt telah mengkhususkan satu pintu syurga untuk orang yang puasa puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwat menahan dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek hingga jadilah jiwa yg tenang. Inilah pahala yg besar keutamaan yang agung. dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menyuruh orang yang sudah kuat syahwat dan belum mampu untuk menikah agar berpuasa menjadikan sebagai wijaa (pemutus syahwat jiwa) bagi syahwat ini karena puasa menahan kuat anggota badan hingga bisa terkontrol menenangkan seluruh anggota badan serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dengan belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yg menakjubkan dalam menjaga anggota badan yg dhahir dan kekuatan batin.
Rosululloh Shalallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “sesungguhnya dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan rayyan orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut tak ada orang selain mereka yang memasukinya. jika telah masuk orang terahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut barang siapa yang masuk akan minum dan barang siapa yg minum tak akan merasa haus nuutk selamanya.” (HR. Bukhori (4/95). Muslim (1152) tambahan akhir dalam riwayat Ibnu Khuzhaimah dalam kitab Shahih (1903))
Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (Qathi) dalam kitabullah yang mulia memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk Taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah Azza wa Jalla dan menjelaskan keutamaan-keutamaan seperti firman Allah Taala yang artinya :
“Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat kaum mukminin dan mukminat kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta wanita yang sabar (ketaatannya) dan kaum pria serta wanita yang khusyu dan kaum pria serta wanita yang bersedeekah dan kaum pria serta wanita yang berpuasa dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatan (syahwat birahinya) dan kaum pria serta kaum wanita yang banyak mengingat Allah. Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yg besar.” (Surat Al-Ahzab : 35)
B. puasa-puasa sunnah penghapus dosa
Diantara puasa-puasa sunnah yang bisa menghapus dosa-dosa kita adalah. Puasa ‘Asyuro dan puasa ‘Arofah. Karana ia di lakukan pada suatu hari yang sangat agung, dengan keagungan hari tersebut, maka puasa di hari ‘Asyuro dan hari ‘Arofah tersebut mempunyaikeagungan pula.
1. Sumber hadits
Artinya:Dari Abu Qotadah R.a Rosululloh Saw bersabda: Puasa pada hari ‘Asyuro itu dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu( H.R Imam Muslim)
Artinya: puasa pada hari ‘Arofah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun yang sedang berlalu dan yang akan datang (H.R Imam Bukhori dan turmidzi)
2. Makna mofrodad hadits
: hari ‘Asyuro ( muharrom)
: menghapus atau menghilangkan
: satu tahun yang lalu.
: hari ‘Arofah
: Dua tahun
: yang lalu
: yang akan datang
3. penjelasan hadits
Dari beberapa hadist di atas, jelas sekali, puasa di hari Arafah akan dapat menghapuskan dosa yang pernah kita lakukan setahun lalu dan menghapuskan dosa yang akan kita lakukan setahun sesudahnya. Oleh karenanya, selayaknya sebagai seorang Muslim, minimal kita sudah memiliki niat untuk melakukan puasa hari Arafah tersebut, walaupun kita tidak mampu untuk berpuasa delapan hari sebelumnya, mulai tanggal 1 Dzul Hijjah. Inilah diantara momentum yang sangat tepat untuk membersihkan lembaran dosa yang pernah kita lakukan. Mari raih momentum penghapusan dosa dengan puasa di hari Arafah ini yang hanya datang hanya sekali dalam satu tahun.
Tidak semua dosa akan dihapuskan karena menurut sebagian para ulama, yang dimaksud dengan dosa dalam hadits di atas bukanlah dosa besar, melainkan dosa-dosa kecil.Dengan berlandaskan hadits rasulullahSAW :
الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ ، مُكَفِّراتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu, shalat jum’at sampai ke shalat jum’at berikutnya, puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya adalah sebagai penghapus (dosa) apabila perbuatan dosa besar di tinggalkan
Semoga dengan penjelasan singkat di atas, kita dapat memahami pesan-pesan Rasulullah SAW dan dapat melaksanakannya dengan baik. Dengan melaksanakan berbagai ibadah karena Allah SWt, diantaranya dengan berpuasa di hari Arafah, kita berharap Allah SWT menghapus dosa-dosa yang pernah kita lakukan satu tahun lalu dan satu tahun yang akan datang. Amien ya Rabbal ‘alamin.Wallahua’lambish-shawab
BAB III
PENUTUP
A. kesmpulan
Jelaslah bahwa ibadah puasa merupakan salah satu rukun islam yang harus kita laksanakan dengan ketentuan Syarat dan rukunnya yang sudah di tetapkan. Karena dalam melaksanakan ibadah puasa yang di landasi keimanan dan mengharap keridoan dari Alloh swt pasti akan memberikan atsar atau pengaruh akan terhapusnya dosa-dosa kita yang telah kita lakukan
B. Saran
Hadirnya makalah ini sangatlah jauh dari kesempunan. Maka dari itu, kami sngat mengharap keritik dan saran dari semua pembaca makalah ini apabila terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan ini, sehingga untuk selanjutny kita bisa memperbaikinya.
DAFTAR PUSTAKA
Daudy Ahmad, Kuliah Akidah Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1997.
Jamhari Muhammad, Zainuddin A, Al-Islam I Akidah dan Ibadah, Bandung: Pustaka Setia, 1999.
Jawad Muhammad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, Jakarta: Lentera, 2008.
Ritonga Rahman, Akidah Merakit Hubungan Manusia Dengan Khaliknya Melalui Pendidikan Akidah Anak Usia Dini, Surabaya: Amelia, 2005.
Shaltut Mahmud, Akidah dan Syariah Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1984.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking